Sindonews.com – Perjalanan perekonomian Indonesia tal
pernah lepas dari defisit neraca perdagangan. Bahkan, defisit neraca
perdagangan terjadi karena besarnya impor dibandingkan ekspor.

Direktur
Indef, Enny Sri Hartati menilai hal tersebut adalah penyakit yang perlu
disebuhkan, namun pemerintah dinilai tidak pernah memberikan obat yang
tepat.

Menurutnya, pemerintah selalu menyelematkan defisit neraca
perdagangan dengan kebijakan moneter seperti menaikkan suku bunga.
Padahal, defisit ini harus diselesaikan dengan stimulus fiskal untuk
sektor riil. Stimulus fiskal ini akan mampu meningkatkan ekspor.

“Defisit
itu sumber utamanya sektor riil. Obat mujarab itu stimulus fiskal.
Kalau terus-terusan pakai kebijakan moneter enggak cocok penyakit sama
obat. Menggunakan instrumen moneter hanya menahan. Kalau kita sakit
hanya mampu menahan rasa sakit,” ucapnya di Hotel JS Luwansa, Jakarta,
Selasa (26/11/2013).

Enny mengatakan, persoalan mendasar defisit
negara adalah defisit dari sektor riil Indonesia yang keropos. Untuk
mengobatinya dipastikan adalah stimulus sektor riil yang mampu
mengimbangi sektor moneter.

Masalah utama penyebab defisit neraca
perdagangan atau biang keroknya adalah defisit migas, defisit impor
bahan baku, serta impor pangan. Pemerintah dinilai tidak punya kebijakan
fiskal yang konkret untuk keluar dari tiga hal tersebut, terutama
mengurangi defisit impor minyak.

“Kalau impor bahan baku itu
jalan keluarnya industri hilirisasi. Kita harus keluar dari tekanan
bahan baku impor. Tidak ada instrumen fiskal merealisasikan industri
hilir sampai saat ini,” ujarnya.

Selanjutnya, masalah impor
pangan, neraca pertanian yang masih bisa surplus hanya sektor
perkebunan. Selain itu, defisit dan porsinya terus membesar.

“Kenapa obatnya selalu diberikan obat yang lain. Bukan obat yang pas. Seolah-olah ada pembiaran,” pungkas Enny.

Sumber: sindonew.com

  • Berita/Post
Indef Administrator
, Indef
The Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) is an independent and autonomous research and policy studies institution established on August 1995 in Jakarta
follow me

Leave a Reply

Close